PENENTUAN KADAR AIR DENGAN METODE
OVEN
1.
TUJUAN
PERCOBAAN
·
Mahasiswa mampu melakukan analisis kadar
air pada setiap bahan pangan.
·
Mahasiwa dapat menentukan bahan pangan
yang ditetapkan kadar airnya dengan metode oven.
2.
ALAT
DAN BAHAN
ü Oven
dengan suhu 100oC – 102oC.
ü Cawan
(stainless steel, alumunium, nikel/porselen). Gunakan cawan lengkap dengan
tutupnya. Untuk bahan-bahan yang memberikan efek korosif, sebaiknya tidak
menggunakan cawan-cawan logam.
ü Desikator
yang berisi bahan pengering ( butiran halus silika gel).
ü Penjepit
cawan.
ü Timbangan
analitik.
ü Mie
kuning (mie basah), bihun dan apel.
3.
DASAR
TEORI
A. Pengertian
Air dan Sifat – Sifat Air
Air adalah substansi kimia
dengan rumus kimia H 2O : satu
molekul air tersusun atas dua atom hidrogen
yangterikat secara kovalen pada
satu atom oksigen . Air bersifat tidak berwarna , tidak berasa dan tidak berbau pada kondisi standar, yaitu pada tekanan 100 kPa (1 bar) and temperatur 273,15 K (0 °C). Zat kimia ini merupakan
suatupelarut yang penting, yang memiliki
kemampuan untuk melarutkan banyak zat kimia lainnya, seperti garam-garam ,gula
, asam , beberapa jenis gas dan banyak
macam molekul organik .
Molekul air dapat diuraikan
menjadi unsur-unsur asalnya dengan mengalirinya arus listrik . Proses ini
disebut elektrolisis air. Pada katoda, dua molekul air bereaksi dengan
menangkap dua elektron , tereduksi menjadi gas H2dan ion hidrokida (OH-). Sementara
itu pada anoda, dua molekul air lain terurai menjadi gas oksigen (O2), melepaskan 4 ion H+ serta mengalirkan
elektron ke katoda. Ion H+ dan OH-
mengalami netralisasi sehingga terbentuk kembali beberapa molekul air. Reaksi
keseluruhan yang setara dari elektrolisis air dapat dituliskan sebagai berikut.
Air adalah pelarut yang
kuat, melarutkan banyak jenis zat kimia. Zat-zat yang bercampur dan larut
dengan baik dalam air (misalnya garam-garam) disebut sebagai zat-zat
“hidrofilik” (pencinta air), dan zat-zat yang tidak mudah tercampur dengan air
(misalnya lemak dan minyak), disebut sebagai zat-zat “hidrofobik” (takut-air).
Kelarutan suatu zat dalam air ditentukan oleh dapat tidaknya zat tersebut
menandingi kekuatan gaya tarik-menarik listrik (gaya intermolekul dipol-dipol)
antara molekul-molekul air. Jika suatu zat tidak mampu menandingi gaya
tarik-menarik antar molekul air, molekul-molekul zat tersebut tidak larut dan
akan mengendap dalam air.
Air menempel pada sesamanya
(kohesi) karena air bersifat polar. Air memiliki sejumlah muatan parsial
negatif (σ-) dekat atom oksigen akibat pasangan elektron yang (hampir) tidak
digunakan bersama, dan sejumlah muatan parsial positif (σ+) dekat atom oksigen.
Dalam air hal ini terjadi karena atom oksigen bersifat lebih elektronegatif
dibandingkan atom hidrogen—yang berarti, ia (atom oksigen) memiliki lebih
“kekuatan tarik” pada elektron-elektron yang dimiliki bersama dalam molekul,
menarik elektron-elektron lebih dekat ke arahnya (juga berarti menarik muatan
negatif elektron-elektron tersebut) dan membuat daerah di sekitar atom oksigen
bermuatan lebih negatif ketimbang daerah-daerah di sekitar kedua atom
hidrogen.Air memiliki pula sifat adhesi yang tinggi disebabkan oleh sifat alami
kepolarannya.
Air memiliki tegangan
permukaan yang besar yang disebabkan oleh kuatnya sifat kohesi antar
molekul-molekul air. Hal ini dapat diamati saat sejumlah kecil air ditempatkan
dalam sebuah permukaan yang tak dapat terbasahi atau terlarutkan (non-soluble);
air tersebut akan berkumpul sebagai sebuah tetesan. Di atas sebuah permukaan
gelas yang amat bersih atau bepermukaan amat halus air dapat membentuk suatu
lapisan tipis (thin film) karena gaya tarik molekular antara gelas dan molekul
air (gaya adhesi) lebih kuat ketimbang gaya kohesi antar molekul air.
Dalam sel-sel biologi dan organel-organel, air
bersentuhan dengan membran dan permukaan protein yang bersifat hidrofilik;
yaitu, permukaan-permukaan yang memiliki ketertarikan kuat terhadap air.
B. Bentuk dan Tipe Air dalam Suatu Bahan
Air yang terdapat dalam
suatu bahan makanan terdapat dalam tiga bentuk:
· Air bebas, terdapat dalam ruang-ruang antarsel dan intergranular dan pori-pori yang terdapat
pada bahan.
· Air yang terikat secara lemah karena terserap (teradsorbsi) pada
permukaan koloid makromolekulaer seperti protein, pektin pati, sellulosa.
Selain itu air juga terdispersi di antara kolloid tersebut dan merupakan
pelerut zat-zat yang ada di dalam sel. Air yang ada dalam bentuk ini masih
tetap mempunyai sifat air bebas dan dapat dikristalkan pada proses pembekuan.
Ikatan antara air dengan kolloid tersebut merupakan ikatan hidrogen.
· Air yang dalam keadaan terikat kuat yaitu membentuk hidrat.
Ikatannya berifat ionik sehingga relatif sukar dihilangkan atau diuapkan. Air
ini tidak membeku meskipun pada suhu 0o F.
Kandungan air dalam bahan
makanan ikut menentukan kesegaran dan daya tahan bahan itu sendiri. Sebagian besar dari perubahan-perubahan bahan
makanan terjadi dalam media air yang ditambahkan atau berasal dari bahan itu
sendiri. Menurut derajat keterikatan air
dalam bahan makanan atau bound water dibagi menjadi 4 tipe, antara lain :
· Tipe I adalah tipe molekul air yang terikat pada molekul-molekul
air melalui suatu ikatan hydrogen yang berenergi besar. Molekul air membentuk hidrat dengan
molekul-molekul lain yang mengandung atom-atom O dan N seperti karbohidrat,
protein atau garam.
· Tipe II adalah tipe molekul-molekul air membentuk ikatan hydrogen
dengan molekul air lain, terdapat dalam miro kapiler dan sifatnya agak berbeda
dari air murni.
· Tipe III adalah tipe air yang secara fisik terikat dalam jaringan
matriks bahan seperti membran, kapiler, serat dan lain-lain. Air tipe inisering disebut dengan air bebas.
· Tipe IV adalah tipe air yang tidak terikat dalam jaringan suatu
bahan atau air murni, dengan sifat-sifat air biasa.
C. Kadar Air Dalam Bahan Makanan
Kadar air adalah perbedaan
antara berat bahan sebelum dan sesudah dilakukan pemanasan. Setiap bahan bila
diletakkan dalam udara terbuka kadar airnya akan mencapai keseimbangan dengan
kelembaban udara di sekitarnya. Kadar air bahan ini disebut dengan kadar air
seimbang. Setiap kelembaban relatif tertentu dapat menghasilkan kadar air
seimbang tertentu pula. Dengan demikian dapat dibuat hubungan antara kadar air
seimbang dengan kelembaban relatif.
Aktivitas air dapat dihitung
dengan menggunakan rumus:
Aw = ERH/100
Aw = aktivitas air
ERH = kelembaban relatif seimbang
Bila diketahui kurva
hubungan antara kadar air seimbang dengan kelembaban relatif pada hakikatnya
dapat menggambarkan pula hubungan antara kadar air dan aktivitas air. Kurva ini
sering disebut kurva Isoterm Sorpsi Lembab (ISL). Setiap bahan mempunyai ISL
yang berbeda dengan bahan lainnya. Pada kurva tersebut dapat diketahui bahwa
kadar air yang sama belum tentu memberikan Aw yang sama tergantung macam
bahannya. Pada kadar air yang tinggi belum tentu memberikan Aw yang tinggi bila
bahannya berbeda. Hal ini dikarenakan mungkin bahan yang satu disusun oleh
bahan yang dapat mebgikat air sehingga air bebas relatif menjadi lebih kecil
dan akibatnya bahan jenis ini mempunyai Aw yang rendah.
D. Penentuan Kadar Air Dalam Bahan Makanan
Kadar air dalam makanan dapat ditentukan dengan berbagai cara:
Metode Pengeringan (Thermogravimetri)
Prinsipnya menguapkan air yang ada dalam bahan dengan jlaan
pemanasan. Kemudian menimbang bahan sampai berat konstan berarti semua air
sudah diuapkan. Cara ini relatif mudah dan murah. Kelemahannya antara lain:
ü Bahan lain di samping air juga ikut menguap dan ikut hilang
bersama dengan uap misalnya alkohol, asam asetat, minyak atsiri, dan lain-lain.
ü Dapat terjadi reaksi selama pemanasan yang menghasilkan air atau
zat mudah menguap lain. Contoh gula mengalami dekomposisi atau karamelisasi,
lemak mengalami oksidasi dan sebagainya.
ü Bahan yang mengandung bahan yang dapat mengikat air secara kuat
sulit melepaskan airnya meskipun sudah dipanaskan.
Metode Destilasi (Thermovolumetri)
Prinsip penentuan kadar air dengan destilasi adalah menguapkan air
demgan “pembawa” cairan kimia yang mempunyai titik didih lebih tinggi daripada
air dan tidak dapat campur dengan air serta mempunyai berat jenis lebih rendah
daripada air. Zat kimia yang dapat digunakan antara lain: toluen, xylen,
benzen, tetrakhlorethilen dan xylol.
Cara penentuannya adalah dengan memberikan zat kimia sebanyak
75-100 ml pada sampel yang diperkirakan mengandung air sebanyak 2-5 ml,
kemudain dipanaskan sampai mendidih. Uap air dan zat kimia tersebut diembunkan
dan ditampung dalam tabung penampung. Karena berat jenis air lebih besar daripadazat
kimia tersebut maka air akan berada dibagian bawah pada tabung penampung. Bila
pada tabung penampung dilengkapi skala maka banyaknya air dapat diketahui
langsung. Alat yang dipakai sebagai penampung ini antara lain tabung Strak-Dean
dan Sterling-Bidwell atau modifikasinya.
4.
PROSEDUR PERCOBAAN
1. Cawan
kering dan tutupnya dikeringkan dalam oven selama 15 menit dan didinginkan
dalam desikator, kemudian ditimbang (untuk cawan alumunium didinginkan selama
10 menit, untuk porselen 20 menit).
2. Menimbang
dengan cepar kurang lebih 5gr sampel yang sudah disebarkan secara merata di
dalam cawan.
3. Mengangkat
tutup cawan dan tempatkan cawan beserta isi dan tutupnya dalam oven selama 1
jam. Hindarkan kontak antara cawan dengan dinding oven. Untuk produk yg tidak
mengalami dekomposisi dengan pengeringan yang lama, dapat dikeringkan selama 20
jam.
4. Memindahkan cawan ke desikator, tutup dengan
penutup cawan, lalu didinginkan. Setelah dingin timbang kembali.
5. Mengeringkan
kembali ke dalam oven sampai diperoleh berat yang tetap.
5. DATA PENGAMATAN
Tabel berat cawan sebelum dan
sesudah dipanaskan pada suhu 100-103oC
|
|
Cawan
1 (gr)
|
Cawan
2 (gr)
|
Cawan
3 (gr)
|
|
Berat
sampel + cawan + tutup (sebelum dipanaskan)
|
34,8317
|
38,2278
|
40,8481
|
|
Berat
cawan + tutup
|
29,8032
|
33,2035
|
35,7885
|
|
Berat
sampel basah (W1)
|
5,0285
|
5,0243
|
5,0596
|
|
Kehilangan
berat (W3)
|
1,5260
|
1,6195
|
0,7365
|
Keterangan :
·
Cawan 1 berisi sampel daun sayur sawi
·
Cawan 2 berisi sampel batang sayur sawi
·
Cawan 3 berisi sampel roti
6.PERHITUNGAN
Penentuan Kadar Air
·
% kadar air (berat kering)=
x 100%
·
% kadar air (berat basah)=
x 100%
·
Total padatan =
x 100%
Penentuan
Kadar Air daun sayur sawi
·
% kadar air (berat kering) =
x 100%
=
43,56%
·
% kadar air (berat basah) =
x 100%
=
30,34%
·
Total padatan =
x 100%
= 69,65%
Penentuan
Kadar Air batang sayur sawi
·
% kadar air (berat kering) =
x 100%
=
47,56%
·
% kadar air (berat basah) =
x 100%
=
32,23%
·
Total padatan =
x 100%
= 67,76%
Penentuan
Kadar Air Roti
·
% kadar air (berat kering) =
x 100%
=
17,03%
·
% kadar air (berat basah) =
x 100%
=
14,55%
·
Total padatan =
x
100%
= 85,44%
7.ANALISA PERCOBAAN
Praktikum ini bertujuan untuk mengetahui kadar air dalam suatu
sampel. Sampel yang digunakan dalam praktikum ini ada 3 jenis sampel, yaitu mie
kuning, bihun dan buah apel. Ketiga sampel ini ditentukan kadar airnya dengan
menggunkan metode oven. Prinsip kerja metode oven ini ialah dengan mengeluarkan
atau menghilangkan sebagian besar air dari suatu bahan pangan dengan cara
menguapkan air tersebut dengan menggunakan energi panas.
Suhu pemanasan yang digunakan pada praktikum ini sebesar 100-103oC
dengan waktu selama 1 jam 15 menit. Pada saat pemanasan selesai ternyata ketiga
sampel tadi masih terlihat memiliki kadar air yang tinggi, terutama pada buah
apel. Hal ini dikarenakan waktu yang dibutuhkan untuk mencapai keseimbangan
antara sampel dan suhu di dalam oven kurang. Karena untuk mengilangkan kadar
air dalam suatu bahan pangan banyak faktor-faktor yang mempengaruhinya.
Diantaranya, suhu pada pada pemanasan, waktu pemanasan, kelembaban udara dan
kecepatan udara.
Berdasarkan bentuknya, ketiga sampel bahan pangan ini termasuk ke
dalam bentuk air yang terikat secara lemah. Dimana mie kuning dan bihun terikat secara lemah karena terserap
(teradsopsi). Sedangkan buah apel
termasuk kedalam bentuk air terikat secara lemah karena terdispersi. Jika
berdasarkan tipe air, kadar air yang ada di dalam mie kuning dan bihun termasuk
air tipe 1. Dimana air tipe 1 ini merupakan tipe air yang terikat pada
molekul-molekul air melalui suatu ikatan hidrogen. Sedangkan buah apel termasuk
kedalam tipe 3. Dimana tipe ini merupakan air yang secara fisik terikat dalam
jaringan matriks.
Pada pemanasan, cawan 1 yang berisi daun sayur sawi kehilangan
berat sebesar 1,5260gr. Pada cawan 2
yang berisi batang sayur sawi kehilangan berat sebanyak 1,6195gr dan pada cawan 3 yang berisi roti kehilangan berat 0,7365gr.
8.KESIMPULAN
Berdasarkan analisa di
atas dapat disimpulkan bahwa:
·
Metode yang digunakan untuk
penentuan kadar air yaitu metode pengeringan dengan menggunakan oven sebagai
alat pengering.
·
Faktor-faktor yang
mempengaruhi:
-
Kadar air awal
-
Komposisi bahan
-
Bentuk dan ukuran bahan
-
Ketebalan bahan
-
Jenis pengeringan
-
Suhu pengeingan
·
Sampel daun sayur sawi
-
% kadar air (BK) : 43,56 %
-
% kadar air (BB) : 30,34 %
-
Total padatan : 69,56 %
-
kehilangan berat : 1,5260gr
·
Sampel batang sayur sawi
-
% kadar air (BK) : 47,56 %
-
% kadar air (BB) : 32,23 %
-
Total padatan : 67,76 %
-
kehilangan berat : 1,6195gr
·
Sampel Roti
-
% kadar air (BK) : 17,03 %
-
% kadar air (BB) : 14,55 %
-
Total padatan : 85,44 %
-
kehilangan berat : 0,7365gr
LAPORAN TETAP
TEKNOLOGI PENGOLAHAN PANGAN
Penentuan Kadar Air
Oleh
Kelompok 2/ 4KC
Berta Dwiani Atma (0612 3040 0338)
Gregorius Jhonathan (0612 3040 0344)
Mariyah (0612
3040 0348)
Pebriantoni (0612
3040 0351)
Selvina Legarty Manurung (0612 3040 0354)
Sri Novita Sari (0612
3040 0355)
Yuni Fitari (0612
3040 0358)
Dosen Pembimbing : Dr. Ir. Martha Aznuri, M.si.
Jurusan Teknik Kimia
Politeknik Negeri Sriwijaya
Tahun Akademik 2014
Gambar Alat
|
Oven
|
|
Crusible
|
|
Penjepit besi
|
Daftar
Pustaka
Tim Penyusun TPP.2014. “ Penetapan Kadar Air dengan Metode Oven”.
Politeknik Negeri sriwijaya :
Palembang.
Http:// books.google.co.id
Http:// wulaniriky. Wordpress.com/2011/01/19/penetapan-kadar-air-metode-oven-pengering-aa/
Tidak ada komentar:
Posting Komentar